Kamis, 27 April 2017

Makalah Pendidikan Islam dalam keluarga yang pertama dan utama



BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala yang wajib dipelajari dan diketahui. Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat Islam. Apabila kita menginginkan berada dijalan yang benar atau lurus maka harus menunaikan petunjuk yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dan untuk mendapatkan petunjuk tersebut harus mencarinya dengan cara belajar.
Al-Qur’an adalah salah satu sumber hukum dan dalil hukum. Al-Qur’an juga merupakan sumber dari ilmu pengetahuan, dan disini penulis akan menerangkan tentang peran keluarga sebagai pilar utama pendidikan Islam yang dihubungkan dengan perintah yang ada dalam Al-Qur’an, sebagaimana dalam Surat At-Tahrim ayat ke 6.
Dalam tinjauan sosiologis keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang setidak-tidaknya terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Pendidikan dalam lingkungan rumah tangga, dikenal juga dengan jalur pendidikan informal. Lingkungan keluarga mempunyai peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan pendidikan, karena perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya. Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan sikap, akhlak dan perasaan agama. Dapat dipahami bahwa penerapan pendidikan Islam dalam pembentukan kepribadian Muslim itu terutama terletak pada lingkungan keluarga.
Tujuan pendidikan keluarga yaitu agar anak mampu berkembang secara maksimal. Itu meliputi semua aspek perkembangan anaknya, yaitu jasmani, akal dan ruhani[1]
Sekali lagi ditegaskan bahwa pendidikan agama dalam rumah tangga menjadi perhatian utama, dalam uraian selanjutnya karena beberapa hal:
1.        Pendidikan agama dalam keluarga adalah kunci bagi pendidikan dalam rumah tangga, kunci bagi pendidikan agama secara keseluruhan, bahkan kunci bagi pendidikan secara keseluruhan.
2.        Pendidikan jasmani dan akal bukanlah kunci bagi pendidikan jasmani dan akal secara keseluruhan dan bukan kunci bagi pendidikan pada umumnya.[2]
Keluarga dilihat dari perspektif pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam kehidupan manusia, kedua orang tua berperan sebagai gurunya dan anaknya berperan sebagai muridnya.[3] Semua mengetahui bahwa pendidikan itu sangat penting, agar akhlak, prilaku, sifat, dan pikiran menjadi lebih baik.
Pada zaman sekarang ini, tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting mengingat banyaknya sendi kehidupan sosial yang melenceng dari tujuan pendidikan, khususnya tujuan pendidikan Islam, baik itu pengaruh dari media massa, tayangan radio atau televisi atau tempat-tempat yang dilegalisasi untuk pelecehan seksual. Jika peran orang tua tidak siaga dan waspada, berarti mereka telah menyerahkan putra-putrinya pada genggaman setan dan pengikutnya.
Inilah permasalahan yang akan diuraikan dalam makalah ini dan semoga pokok pembahasan makalah ini dapat diterima dan dimengerti serta dapat memberikan pengetahuan para pembaca tentang betapa pentingnya tanggung jawab keluarga sebagai pilar utama dalam menerapkan pendidikan agama Islam.








B.          Rumusan Masalah
1.        Bagaimana konsep lingkungan keluarga dalam pendidikan Islam?
2.        Bagaimanaperan keluarga dalam pendidikan Islam sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6?
3.        Bagaimana hubungan orang tua dengan anak dalam pendidikan Islam?

C.          Tujuan Penulisan
1.        Untuk mengetahui tentang konsep keluarga dalam pendidikan agama Islam.
2.        Untuk menambah pengetahuan peran keluarga tersebut dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an diantaranya Surat At-Tahrim ayat 6.
3.        Untuk mengetahui tugas-tugas yang harus dilakukan keluarga dalam membentuk jiwa yang beragama.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pendidikan Keluarga Dalam Islam
1.        Pengertian Lingkungan keluarga
Dalam Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, nasl, ‘ali, dan nasb[4] Lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarganya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak akan lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya (orang tua dan anggota yang lainnya).[5]

Bagi anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana ia menjadi pribadi atau diri sendiri[6]. Keluarga juga merupakan tempat bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya.
Orang tua adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga, yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut dengan ibu bapak. Mereka inilah yang berperan dalam kelangsungan suatu rumah tangga. Sedang anak-anaknya atau semua orang yang berada dibawah pengawasan maupun bimbingan dan asuhannya disebut sebagai anggota keluarga.[7]
Dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. Ath-Tahrim: 6)[8]

Dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an mengatakan: Sesungguhnya beban tanggung jawab seorang Mukmin berada dalam dirinya dan keluarganya merupakan beban yang sangat berat dan menakutkan.[9] Sebab neraka telah menantinya disana, dan dia beserta keluarganya terancam dengannya. Maka, merupakan kewajibannya membentengi dirinya dan keluarganya dari neraka ini yang selalu mengintai dan menantinya.
Dan didalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 mengatakan: Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” yaitu kamu perintahkan dirimu dan keluargamu yang yang terdiri dari istri, anak, saudara, kerabat, sahaya wanita dan sahaya laki-laki untuk taat kepada Allah.[10] Dan, kamu larang dirimu beserta semua orang yang berada dibawah tanggung jawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah. Kamu ajari dan didik mereka serta pimpin mereka dengan perintah Allah. Kamu perintahkan mereka untuk melaksanakannya dan kamu bantu mereka dalam merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap Muslim, yaitu mengajarkan kepada orang yang berada dibawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan dan larang oleh Allah Ta’ala kepada mereka.
Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia. Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

öãBù&ur y7n=÷dr& Ío4qn=¢Á9$$Î/ ÷ŽÉ9sÜô¹$#ur $pköŽn=tæ ( Ÿw y7è=t«ó¡nS $]%øÍ ( ß`øtªU y7è%ãötR 3 èpt6É)»yèø9$#ur 3uqø)­G=Ï9 ÇÊÌËÈ
dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Q.S Taha: 132).

Dijelaskan pula dengan firman-Nya;
öÉRr&ur y7s?uŽÏ±tã šúüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ
dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
(Q.S Asy Syu’ara’: 214).

Dari uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1.         Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
2.         Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
3.         Bekal ‘ilmu adalah yang utama.
4.         Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka.
5.         Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga sampai teman-teman dekat.

B.          Kandungan Al-Qur’an Surat At-Tahrim Ayat 6
1.        Perintah taqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berdakwah.
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya, yaitu hendaklah sebagian dari kamu memberitahukan kepada sebagian yang lain, apa yang menjaga dirimu dari api neraka dan menjauhkan kamu dari padanya, yaitu ketaatan kepada Allah dan menuruti segala perintah-Nya. Dan hendaklah kamu mengajarkan kepada keluargamu perbuatan yang dengannya mereka dapat menjaga diri mereka dari api neraka. Dan bawalah mereka kepada yang demikian ini melalui nasihat dan pengajaran.

2.        Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.
Banyak sekali amalan shalih yang menjadikan seseorang masuk surga dan dijauhkan dari api neraka, misalnya bersedekah, berdakwah, berakhlaq baik, saling tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan shalat dan bersabar.

3.        Pentingnya pendidikan Islam sejak dini 
Anak adalah aset bagi orang tua. Dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jati dirinya. Banyak orang tua “salah asuh” kepada anak sehingga perkembangan fisik yang cepat diera globalisasi ini tidak diiringi dengan perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak, sehingga banyak prilaku kenakalan-kenalakan oleh para remaja.
Sebagai orang tua yang proaktif harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan anak. Rasulullah juga memberitahukan betapa pentingnya mendidik anak sejak dini, dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: tidak ada dari seorang anak (Adam) melainkan dilahirkan atas fitrah (Islam) kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya beragama Yahudi atau beragama Nasrani atau beragama Majusi. Bagaikan seekor binatang yang melahirkan seekor anak. Bagaimana pendapatmu, apakah didapati kekurangan? Kemudian Abu hurairah membaca firman Allah (Q.S. Ar-Rum: 30). (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (agama Allah) (HR.Muttafaqun ‘Alaih).[11]

·         Penjelasan (Syarah Hadits)
Hadits diatas menjelaskan tentang status fitrah setiap anak, bahwa statusnya bersih, suci dan Islam baik anak seorang Muslim ataupun orang non-Muslim. Kemudian kedua orang tuanyalah yang memelihara dan memperkuat keIslamannya atau bahkan mengubah menjadi tidak Muslim, seperti Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Jadi hadits diatas memperkuat bahwa pengaruh orang tua sangat dominan dalam membentuk kepribadian seorang dibandingkan seorang dibandingkan dengan faktor-faktor pengaruh pendidikan lain. Kedua orang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam mendidik anaknya.

Pendidikan Islam dalam keluarga ini sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian seorang anak, karena itulah pendidikan pertama yang diperolehnya akan selalu menjadi kenangan dalam hidupnya. Maka dari itu diperlukan suatu pembiasaan dan pemeliharaan dengan rasa kasih sayang terutama dari kedua orang tuanya.
Menurut Rasulullah fungsi dan peran orang tua bahkan mampu untuk membentuk arah keyakinan anak-anak mereka. Menurut beliau, setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama, namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan, pemeliharaan dan pengaruh kedua orang tua.[12]

C.          Hubungan Orang Tua dan Anak dalam Pendidikan Islam
1.        Bentuk Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Islam
Dari ayat Al-Qur’an yang telah dipaparkan pada ayat tersebut diatas, peran utama orang tua adalah sebagai pelindung keluarga. Dalam memberikan perlindungan kepada keluarga ada dua peran yang harus dijalankan oleh orang tua, yang pertama sebagai figur yang dapat memberikan contoh kehidupan yang baik, dan yang kedua yaitu sebagai pendidik yang baik.

2.        Nasihat Al-Qur’an Dalam Pendidikan Keluarga
a.        Taat menjalani hidup sebagai umat beragama.
Anak didik harus mentaati Allah, Rasulullah dan orang yang dipercaya mengendalikan kehidupan ini, termasuk menaati nasihat orang tua yang baik.
b.        Meneladani Luqmanul Hakim, tokoh pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an ada Surat Luqman ayat 12-19 menceritakan tentang kisah Luqmanul Hakim, seorang tokoh pendidik, seorang bapak, orang tua yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dalam pendidikan keluarga. Diantara nasihat yang diberikan Luqman kepada anaknya adalah:
1)             Pandai bersyukur
2)             Mengesakan Allah, tidak musyrik.
3)             Menghormati orang tua
4)             Bersikap dan berperilaku jujur
5)             Mendirikan shalat, menjalani hidup dengan sabar  dan rendah hati.

3.        Berbakti, tidak menyakitkan hati dan berdo’a untuk kedua orang tua.
Al-Qu’an Surat Al-Isra’ ayat 23-24 yang berbunyi:
* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ   ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[13]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".


Pelajaran yang dapat di ambil dari ayat tersebut di atas adalah:
·           Ayat 23:
a.         Anak Muslim harus menyembah hanya kepada Allah
b.        Anak Muslim harus birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua)
c.         Anak Muslim tidak boleh menyakiti hati orang tua
d.        Anak Muslim harus berkata yang menyenangkan orang tua (qaulan karima)
·           Ayat 24:
a.         Anak Muslim harus menghormati kedua orang tuanya denga tulus ikhlas karena dari keduanya anak itu muncul kedunia.
b.        Anak muslim harus mendo’akan kedua orang tuanya, agar Allah mengasih-sayangi kedua orang tuanya.

















BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama dan utama, karena dalam keluarga inilah anak pertama mendapatkan pendididkan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarganya.
Pendidikan yang pertama bagi anak adalah keluarga atau orang tua. Orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya. Tujuan pendidikan keluarga yaitu agar anak mampu berkembang secara maksimal. Itu meliputi semua aspek perkembangan anaknya, yaitu jasmani, akal dan ruhani.
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Al-Qur’an Surat At-Tahrim Ayat 6 yaitu:
1.        Perintah Taqwa Kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berdakwah
2.        Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka
3.        Pentingnya pendidikan Islam sejak dini
4.        Keimanan kepada para malaikat
Nasihat Al-Qur’an dalam pendidikan keluarga yaitu sebagai berikut:
1.        Taat menjalani hidup sebagai umat beragama
2.        Meneladani Luqmanul Hakim sebagi tokoh pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an
3.        Berbakti, tidak menyakitkan hati dan berdo’a untuk kedua orantua
4.        Bermoral, menjaga kehormatan.






DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya,)
Darwis, Djamaluddin. Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah Ragam dan Kelembagaan (Semarang: Rasail, 2006)
Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2008).
Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008)
Ahmad, Nurwadjah. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman, (Bandung: PT Marja 2007)
___________ Al-Quran dan Terjemahnya, Dep. Agama RI (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2007)
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir al- Maraghi, Terj. Bahrun Abu Bakar, Dkk (Semarang: CV. Toha putra, 1993)
Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Dzilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani Pers. 2004).
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)
Khon, Abdul Majid. Hadits Tarbawi: Hadits-hadits Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012)
Jalaluddin. Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003)

·                http://snurhay4t1.blogspot.co.id/2014/01/keluarga-sebagai-pilar-utama-pendidikan_3.html (Dikutip sebagian pada hari Jum’at, 18 Maret 2016)




[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya,), hlm.155
[2] Ibid. hlm. 158
[3] Djamaluddin Darwis, Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah Ragam dan Kelembagaan (Semarang: Rasail, 2006), hlm. 139-140.
[4] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2008). Cet. ke- 2. hlm.226.
[5] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm. 177
[6] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2008), hlm. 9
[7] Ahmad, Nurwadjah, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman, (Bandung: PT Marja 2007),
[8] Al-Quran dan Terjemahnya, Dep. Agama RI (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2007), hlm. 560
[9] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Pers. 2004). hlm.338.
[10] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000) ,hlm.751.
[11] Abdul Majid Khon, Hadits Tarbawi: Hadits-hadits Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), cet. 1, hlm. 235-236.
[12] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 216
[13] Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah tentang Ekonomi Islam

BAB    I PENDAHULUAN A.           Latar Belakang Islam merupakan agama yang kaffah , yang mengatur segala perilaku kehidupan ma...